Senin, 28 Maret 2011

Kanak-kanak menderita tetapi dewasa berbahagia

Mungkin tidak banyak anak yang saat sudah balita, belum menyadari bahwa dirinya sebenarnya sudah tidak punya ibu kandung. Kemana-mana dan dimana-mana diasuh oleh perempuan-perempuan lain, baik itu keluarga dari ayahnya atau dari tetangganya yang mencoba menggantikan kedudukan mendiang ibunya sekadar agar anak itu bisa meneruskan hidupnya. Termasuk air susu diberikan oleh ibu tetangganya yang kebetulan juga punya anak kecil. Jangan bicara susu formula atau susu bayi lainnya; karena saat itu, di dusun kecil terpencil itu belum dikenal nama atau barang mewah itu. Paling banter, kalau kesulitan memintakan asi, ya dibuatkan "air beras setengah matang" yang murah meriah.
Si anak malang (sebut saja Ubuh) itu pun kemudian mendapat (tanpa menagih) ibu pengganti yang namanya ibu tiri. Ibu tiri itu kemudian menjadi pengasuh tetap, karena beliau sudah resmi menjadi istri ayahnya.

Karena ayah Ubuh tidak sempat mengenyam pendidikan formal (even SD), tetapi hanya belajar serabutan sendiri, itupun dengan aksara lokal, demikian juga ibu tiri Ubuh hanya sampai klas 3 SR (Sekolah Dasar jaman dulu), maka jangan berharap atau berkhayal terlalu jauh untuk bisa sekolah sampai perguruan tinggi seperti sudah menjadi planning utama setiap keluarga modern; pergi ke kota saja masih menjadi tamasya kelas mewah. Bahkan dibilang buang-buang duit.

Waktu bergulir dan kehidupan rupanya terus berkembang. Kabut yang sehari-hari menyelimuti desa itu rupanya berangsur menipis dan terang mulai membentang. Hingga suatu saat seorang guru SR dari luar desa nebeng atau minta tumpangan di rumah orang tua Ubuh, karena memang ditugaskan mengajar di klas 3 SR di dekat rumah Ubuh. Kebetulan memang rumah orang tua Ubuh ada kamar kosong, yang awalnya diperuntukkan untuk menyimpan hasil bumi. Nah di sinilah rupanya terjadi titik awal, timbulnya kesadaran untuk bersekolah bagi Ubuh. Kenapa demikian, karena Pak Guru (PG) yg nebeng itu juga baik hati dan sering memberikan AM buku-buku bergambar yang tentu saja membuatnya tertarik untuk membuka-buka, bertanya dan bertanya. PG juga memang berbakat sebagai guru, dan tanpa rasa berat-hati sering berbaur dan menjelaskan kepada AM dan anak-anak sebayanya setiap ada kesempatan -- biasanya malam-malam menjelang tidur -- meskipun penerangannya hanya pakai lampu teplok karena belum ada listrik yang benderang seperti anak-anak sekarang bisa nikmati. Gambar-gambar binatang dan penjelasannya diberikan sampai anak-anak puas. Maklum saat itu Ubuh belum bisa membaca lancar, baru mampu mengeja sepatah demi sepatah. Di situ jugalah rupanya ayah Ubuh timbul kesadarannya agar anaknya juga nanti tidak buta huruf atau buta aksara sebagaimana yang dialami dirinya. Bukan karena ayahnya itu dulu tak mau sekolah; melainkan memang jaman ayahnya kanak-kanak, belum ada sekolah untuk masyarakat umum. Hal itu kemudian sering didengar sendiri oleh Ubuh di depan depan ibu tirinya.

Singkat cerita, karena kalau dipanjangkan menjadi novel, si Ubuh akhirnya bisa menjadi bintang pelajar saat menyelesaikan SD-nya di kota terdekat; menjadi juara kelas di tingkat SLTP dan SLTA yang kmudian menyelesaikan S1-nya di Universitas terkenal dan tertua di Yogyakarta, yang dikenal juga dengan Kampus Biru pada jurusan yang langka dan menjadi primadona masa itu, yaitu jurusan Akuntansi.

Selepas menyelesaikan kuliahnya, Ubuh dengan mudah memilih lapangan kerja yang hendak dimasuki. Ia pun diterima di Bank Bumi Daya dan Bank BNI 46. Pada saat yang sama, surat undangan yang menyatakan minatnya untukbersedia diwawancara datang dari perusahaan yang bergerak di bidang komputer. Saat itu gaji awal bagi sarjana lulusan Fakultas Ekonomi di bank adalah sebesar Rp125.000,- sementara di swasta (perusahaan komputer) sebesar Rp175.000,- Jadi ada Rp50.000 selisih penghargaan. Oleh karena itulah Ubuh memutuskan utuk memulai karirnya di perusahaan yang bergerak di bidang jasa komputer.

Singkat cerita, sambil duduk-duduk minum kopi dan menghirup udara segar di halaman rumahnya di Cluster Monaco, Kota Wisata Jakarta, si Ubuh terkaget. Sambil menatap kosong langit biru, terlihat kembali lintasan perjalanan hidupnya. Pada usianya yang sudah purna tugas ini, banyak hal rupanya yang telah dilalui. Karirnya sebagai pegawai biasa bisa ia tempuh sampai ujung. Sempat juga menjadi anggota Korpri karena masuk menjadi pegawai PT Waskita Karya selama 3,5 tahun. Untuk melengkapi dan menikmati praktek akuntansinya, Ubuh pun masuk sebagai auditor di sebuah Kantor Akuntan. Kemudian kantor ini juga yang membuatnya kenal dengan keluarga Mr Brakel pengusaha tambang dari Jerman Barat dan akhirnya beralih ke perusahaan milik pengusaha itu, yang menambang batubara di Bengkulu. Ia ingat gajinya meningkat terus setiap kali pindah kerja.

Beberapa tahun di Bengkulu yang cukup jauh dari Jakarta, di mana keluarganya masih tinggal (dan sengaja ditinggal), akhirnya Ubuh memperoleh kesempatan pindah lagi ke sebuah perusahaan jalan tol swasta pertama di Indonesia. Ibarat burung yang senantiasa melayang-layang mencari makan di setiap dahan, di sinilah ia "hinggap" dan menutup kariernya. Dari foto-foto albumnya yang ia buka, rupanya posisi Direktur dan Direktur Utama sudah sempat dia jalani dengan selamat. Terima kasih Tuhan,gumamnya dalam hati

Dua anaknya (perempuan dan laki-laki) sudah menyelesaikan jalur pendidikannya sampai ujung. Bersyukur keduanya sempat menikmati dan menuntaskan perguruan tinggi di samping di perguruan tinggi ternama di dalam negeri namun juga sempat di Benua Eropa dan Australia. Bahkan yang 'putri' pun kini masih "nyangkut" di Belanda, bekerja di sebuah perusahaan besar dari Asia sbg penyedia barang-barang elektronik. Kehidupan tidak mengenal henti dan berhenti, rupanya. Tinggal kini bagaimana Ubuh mengabdikan sisa hidupnya untuk keluarga dan masyarakat dan melihat dan mendoakan dua anaknya yang masih bujangan itu.

Dari ke-surprise-an yang ada, Ubuh sangat kaget juga dengan perubahan nilai uang. Copy Slip Gaji pertama saat baru masuk kerja tahun 1984, senilai Rp125.000,- untuk tingkat sarjana yang ia laminating dengan baik, berbeda jauh dengan salah satu slip gajinya yang ia sempat terima di tahun 2004 sebesar Rp100.000.000,- Masih aktif juga otaknya ingin menghitung tingkat growth rate termasuk inflasinya. Sayang senja telah tiba, magrib yang menjemput gelap telah hadir di berandanya dan ia pun segera masuk kamar agar tidak masuk angin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar